" Bukan salah Bunda Mengandung, tapi salah Bunda Melahirkan "
Mengapa aku tak terlahir di Istana Negara atau di sebuah rumah mewah, dengan sejuta pembantu dan sebatalyon sekurity. Itulah kata yang bisa ku tahan dalam hati, karena aku memang anak yang terlahir dari keluarga miskin yang hanya tinggal berdua sama Ibundaku tercinta. Sementara Ayahku, tak tahu pergi kemana, tak karuan rimbanya. Masih hidupkah atau sudah meninggal, akupun tak tahu dan rasanya juga tak ingin tahu. Bukan aku membencinya, bukan pula aku tak mau mengakuinya, tetapi aku hanya menyesalinya meski itu tak boleh bagiku. Tetapi aku hanyalah manusia yang menginginkan hidup wajar sebagaimana manusia lainnya. Bisa makan tanpa bersusah payah mencari sisa- sisa makan di tempat sampah, ingin mengenakan pakaian sekedar untuk membalut tubuhku dan ingin tinggal dirumah yang layak untuk dihuni oleh manusia. Dan yang selalu aku impikan sepanjang waktu, mungkinkah aku bisa sekolah seperti anak- anak sebayaku yang setiap pagi kulihat pergi ke sekolah bersama teman-temannya. Mungkinkah...?
Aku sangat yakin bahwa Tuhan tidak sedang tidur, atau pura- pura tak peduli pada hambanya sepertiku, melainkan waktu saja yang belum berpihak padaku. Sepanjang malam ku berdo'a, sepanjang hari ku memohon, agar aku bisa sekolah sebelum usiaku bertambah tua.
Ini hanyalah fiksi kehidupan, apabila ada kemiripan dengan kehidupan saudara para pembaca yang budiman, itu hanyalah kebetulan belaka. Mohon maaf.






0 komentar:
Posting Komentar